Senin, 21 Januari 2019

Kecerian di Festival Pademawu Barat

pada minggu 20 januari kemarin kelompok KKN 13 Desa Pademawu Barat mengadakan lomba balap karung dan nyo'on ghaddang.




Jumat, 18 Januari 2019

usaha rekristalisasi garam di desa Pademawu Barat




Garam merupakan bahan yang selalu ada di dapur. Rasa asin masakan berasal dari garam. Garam berasal dari air laut yang dipanaskan dengan pancaran sinar matahari, proses ini disebut dengan kristalisasi. Di desa Pademawu Barat tepatnya di dusun Karang dalem terdapat industri rumahan yang mana dapat menghasilkan garam. Usaha ini baru berjalan 6 bulan. Jika biasanya pembuatan garam menggunakan air laut sebagai bahan utama, lain halnya dengan usaha ini. Pembuatan garam di desa Pademawu Barat ini menggunakan bahan utama garam yang memiliki kualitas rendah. Garam dengan kualitas rendah tersebut diubah menjadi garam dengan kualitas yang bagus.
Cara pengubahannya disebut dengan rekristalisasi, yaitu proses pengkristalan ulang. Proses ini diawali dengan merendam garam yang berkualitas rendah dengan air sumur selama kurang lebih 2 jam. Dalam proses ini, pada permukaan air terdapat kotoran yang bewarna kuning, kotoran tersebut disaring dan dibuang. Proses penyaringan ini disebut dengan filtrasi. Setelah difilter, proses selanjutnya yaitu pemanasan dengan menggunakan bejana yang terbuat dari stainless. Pemanasan dilakukan selama kurang lebih 2 jam menggunakan kayu bakar atau sampah baik yang berupa sampah daun, sampah rumah tangga, sampah kertas, dsb. Proses yang terakhir dilakukan pengeringan dengan menjemur garam yang basah pada paparan matahari. Proses ini memakan waktu kurang lebih 4 jam. Rekristalisasi garam ini mengalami penyusutan 2 ons/kg.
Setelah kering, barulah dapat diperjual belikan. Garam ini dikirim ke daerah Banyuwangi dan Bali. Terkadang garam yang masih basah dikirim ke Banyuwangi dan Bali. Sedangkan garam yang sudah kering diperjual belikan ke tetangga dengan harga Rp 5000,00.



Kerajinan Gerabah Pademawu Barat



Gerabah merupakan kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat. Kerajinan ini merupakan produk unggulan dari desa Pademawu Barat, dusun asampitu. Mbah Supar (72 tahun) merupakan salah satu pengrajin gerabah yang telah membuat gerabah sejak tahun 1961 sampai sekarang. Mbah Supar mulai tinggal di Desa Pademawu Barat, Dusun Asampitu sejak tahun 1959, kemudian beliau belajar membuat gerabah secara otodidak pada tahun 1961. Awalnya mbah Supar belajar karena menyenangi kegiatan tersebut, setelah beberapa lama belajar, pada tahun 1977 mbah Supar mulai mengirim gerabah hasil produksinya sendiri ke Bali setiap satu bulan sekali, dua bulan sekali, hingga 4 bulan sekali. Pemasaran gerabah mbah Supar meningkat pesat hingga penjualan gerabah mbah Supar sampai ke manca negara yakni Australia dan Amerika pada tahun 1995. Mbah Supar yang tak pandai berbahsa inggris tidak menjualnya langsung kepada masyarakat Australia dan Amerika, tapi beliau menjualnya melalui perantara. Kerjasama tersebut tidak bertahan lama, hingga akhirnya mbah Supar harus kembali memasarkan gerabah buatannya ke Bali. Bom atom Amrozi meletus dan menyebabkan masyarakat Bali menolak untuk melakukan transaksi jual beli gerabah dengan mbah Supar lagi. Sampai saat ini gerabah buatan mbah Supar masih diminati banyak orang hal ini terbukti dengan tetap adanya permintaan pemesanan gerabah kepada mbah Supar, mialnya dari kantor-kantor, sekolah dan rumah-rumah.
Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat gerabah adalah tanah liat. Alat dan bahan yang lain dibutuhkan adalah air, alat pemutar, dan alas untuk gerabahnya.




Kecerian di Festival Pademawu Barat

pada minggu 20 januari kemarin kelompok KKN 13 Desa Pademawu Barat mengadakan lomba balap karung dan nyo'on ghaddang.